Simak Rek! 4 Kebohongan Tentang Mojokerto

Seperti tulisan saya diatas, Mojokerto identik dengan wisata sejarah seputar kerajaan Mapajahit. Tetapi jangan salah, banyak sekali wisata di Mojokerto yang sekarang sudah banyak bermunculan lho, apalagi sejak pandemi ini, wisata di Mojokerto telah menjamur di setiap sudutnya. Mulai dari per caffe an alias ajang nongki sekaligus pamer anak muda hingga wisata keluarga yang merambah tak karuan di daerah selatan. Ini tentu kabar baik bagi setiap kalangan baik dari investor, pengusaha hingga masyarakat biasa yang menjadi pengunjung. Bagai dua ujung tombak, ini juga menjadi PR bagi pemerintah Mojokerto hingga masyarakat umum agar tidak melupakan wisata lokal leluhur alias kebudayaan asli Mojokerto. Wis pokok e ojo sampek gara-gara menjamur e wisata ‘Modern’ masyarakat nganti ninggalno bahkan lali karo kebudayaan lokal Mojokerto sing asline keren puol.

4. Sangat terbuka dengan sastra dan kesenian

Lagi-lagi teman saya yang cukup mengenal Mojokerto karena sempat saya ceritakan sedikit seputar kota ini berceletuk ringan “karena Mojokerto sangat kental dengan kebudayaan, pasti masyarakatnya banyak yang jadi sastrawan sampe seniman ya” sontak saya jawab “nggak juga”
Mungkin kalian berpikir kenapa saya seolah-olah merendahkan Mojokerto ya? Hehe ini murni opini dan saya tidak bermaksud merendahkan kota manapun ya. Matur nuwun.
Kembali ke percakapan saya tadi, saya spontan menjawab “nggak juga” karna sesuai pemahaman saya beberapa orang sastraawan seperti Mas Dadang Ari Murtono (penyair terkemuka) hingga Bapak Fahruddin Faiz (bapak filsafat cinta) yang lahir di Mojokerto memilih berproses ke sastraan dan keseniannya justru di luar Mojokerto. Tentu saya tidak tahu alasan spesifik mereka apa memilih hal itu. Biar hanya beliau-beliau dan Tuhan yang tahu. Selain itu, entah mengapa kesenian seperti Ludruk, Bantengan, Ujung dan Wayang Kulit yang jelas-jelas berasal dari Mojokerto sangat jauh tingkat pelestariannya ketimbang daerah-daerah lain yang cenderung melestarikannya besar-besaran dengan digandeng pemerintah serta media.
Tapi di lain itu, saya yakin masih ada beberapa kesenian dan kesastraan yang hidup di Mojokerto. Mungkin hanya tingkat eksistensinya kudu di tingkatkan, tentu dengan menggandeng banyak elemen masyarakat. Mulai dari masyarakat lokal, pemuda-pemudi, pemerintah hingga media. Mengingat tidak ada perubahan besar dari perjuangan kecil.

BACA JUGA :  Sejarah Kerajaan Majapahit, Penaklukan Hingga Keruntuhanya

Penulis : Gayatri Mawar Wangi, Mahasiswi Ilmu Komunikasi/Fisip, Universitas Islam Majapahit (UNIM)

Share this post

PinIt
    scroll to top