Simak Rek! 4 Kebohongan Tentang Mojokerto

Maaf kali ini saya buka dengan kebohongan yang negatif. Tapi serupa kata pepatah “Lebih baik merasakan pahitnya kejujuran daripada manisnya kebohongan”. Benar memang biaya hidup tergantung individu masing-masing. Tapi jujur bahkan di perdesaan disini kini baya hidup cukup mahal di banding daerah-daerah seperti Banyuwangi dan Ponorogo. Mengapa saya menyebut dua daerah tersebut? Ya karena saya membandingkan dua daerah itu dengan Mojokerto dengan berbincang bersama kawan yang berdomisili saya. Bayangkan jika dilihat dari harga makanannya, disini soto ayam saya paling murah 10 ribu, bahkan saya kemarin makan soto ayam di daerah Surodinawan harganya 12 ribu. Sementara di Ponorogo hanya 7-8 ribu. Begitupula ketika saya berkesempatan berlibur ke Kawah Ijen di Banyuwangi/ total biaya yang saya keluarkan hanya 15 ribu, sangat kontras dengan harga masuk wisata air panas Padusan di Mojokerto yang hampir merogoh kocek 30-35 ribu padahal ya dari segi estetika wisata yang ditawarkan saja sangat jauh berbeda, hehehe. Memang sangat amatir membandingkan biaya hidup secara keseluruhan dengan mengambil sampel harga makanan dan biaya masuk wisata, tapi setidaknya itu yang bisa menjadi referensi saya. Jadi, buat kalian yang mau berwisata ke Mojokerto jangan lupa persiapkan biaya yang cukup ya lur. Hehe

2. Kota terkecil di Indonesia

Ketika iseng mencari kata “Mojokerto” di situs pencarian, maka yang pertama kali di muncul adalah keunikannya yang tertulis “Kota Terkecil di Indonesia”. Ini sungguh kebohongan, pasalnya iya memang Mojokerto adalah salah satu kota terkecil di Indonesia, tetapi bukan yang paling kecil. Sebab kota yang paling kecil di Indonesia adalah Kota Sibolga yang terletak di Sumatera Utara. Boleh saya terbak? Pasti kalian jarang mendengar kota ini kan? Sama saya juga wkwkw. Kota Sibolga memiliki luas 10,77 km persegi atau setara dengan 107.700 hektar. Luas ini lebih kecil dari Kota Mojokerto, yaitu 20,21 km persegi.

BACA JUGA :  Dituduh Dokter Gadungan, Gerakan Petisi Save Mas Pur Makin Masif 

3. Wisata yang itu-itu saja.

Share this post

PinIt
    scroll to top