Pendidikan di Mata Orang-Orang

Kamu kembali mengulang kalimat itu lagi, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cari duit. Buat apa jauh-jauh kalau ujungnya menyusahkan orang tua. Buat apa buat apa dan seterusnya kau ulang-ulang sampai mulutmu berbusa.

Aku hanya bergumam dalam hati. Pasti manusia ini tak pernah makan bangku sekolahan. Jadi ngomongnya gak jelas seperti itu. Aku menghela nafas panjang, semoga pak menteri memaafkan segala ketidaktahuan kalian.

Pendidikan bangsa kita mulai beranjak menurut pengamatanku. Dulu pada saat aku masih duduk manis di bangku sekolah. Ujian dianggap sebagai hantu tahunan, bahkan musiman. Aku menganggap seperti itu karena setiap menjelang ujian. Siswa-siswi berbondong-bondong mencari orang pintar untuk meminta bantuan. Memohon agar pensilnya bisa berjalan sendiri, menjawab sendiri dimana jawaban yang benar. Aku hanya tertawa terbahak-bahak jika mendengar cerita itu.

Bagiku nilai bagus dan tidaknya bukanlah menjadi ukuran. Yang menjadi ukuran adalah kesungguhan belajar dan menyelesaikan semua proses dengan benar. Agar semuanya baik-baik saja. Tentunya Allahlah yang menjadi jawaban dari setiap proses yang harus kita jalani.
Alih-alih menghiraukan pembicaraan orang-orang tersebut. Biarlah, aku anggap sebagai angin lalu yang sesuka hati berhembus. Aku tak boleh memaksa angin untuk datang padaku. Aku hanya berharap agar angin itu tak membenciku.
Kini kulanjutkan kembali pengembaraan kehidupanku. Bersinggah ke tempat yang membuat batinku serasa damai, sejuk. Untuk sejenak melupakan kesibukan duniawi.

“Subhanallahi walkhamdulillah walaailaaha illallahu wallahu akbar.” Terdengar suara orang-orang melantunkan sepenggal bait syair rotibul haddad. Kedatanganku sedikit terlambat, karena sebelum berangkat ibu memintaku untuk belanja sebentar di warung mak Sri. Mereka melantunkan dengan penuh khidmat. Ada yang sambil ngantuk-ngantuk, ada pula yang dengan suara lantang. Semuanya larut dalam kalimah-kalimah indah, untuk bersenandung memuji sang ilahi.

Tiba-tiba kamu datang menghampiri kami yang sedang asyik berbincang-bincang kesana-kesini.
“Bagaimana ujian kalian. Mudahkah?”
Aku jawab dengan nada dingin.
“Mudah sekali.”

Teman sebelahku menanggapi dengan jawaban menggelikan. Pensilnya menjawab dengan sendirinya. Setelah sebelumnya dia bawa ke orang pintar untuk dibacakan mantra agar bisa jalan-jalan sendiri. Temanku yang duduk bersandar dinding malah menjawab jika dia mendapat wangsit saat terlentang di tepian sungai.

***

Sepertiga malamku hari ini diselimuti kegundahan berkepanjangan. Ibu dan ayahku meminta untuk aku melanjutkan ke pesantren. Aku tak sejalan dengan pilihan keduanya.
Keinginanku lebih tertuju pada perguruan tinggi. Melanjutkan pendidikan ke dunia kampus. Aku sudah merencanakan hal itu jauh sebelum ujian nasional ini digelar.

Aku memilih jalan itu, terinspirasi dari kakak iparku yang bisa menembus perguruan tinggi berkelas dengan beasiswa.

Siang berganti malam pikiran-pikiran itu selalu menghantuiku. Sampai pada suatu titik akhirnya ku putuskan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ku mohon restu pada ibu dan ayahku untuk memberikan izin atas pilihan yang akan ku ambil. Mendoakan agar jalan yang ku pilih, adalah yang terbaik untukku.

Aku mencoba peruntungan dengan mendaftar ke dua kampus yang memiliki sejarah panjang di negeri ini.

“Apa kampus itu adalah Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada?” jawab seorang teman yang menghampiriku.

“Betul katamu. Kampus tersebut merupakan kampus yang lahir beriringan dengan lahirnya republik ini. Lahir dari kesamaan cita-cita untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik untuk kemajuan bangsa.” Jawabku. Kebetulan beberapa hari yang lalu aku sedikit membaca sejarah masing-masing kampus, rencananya aku akan mendaftarkan diri ke dua tempat itu.

Keesokan hari, aku duduk-duduk di teras rumah. Memandangi keindahan langit, sesekali aku menyeka nafas panjang untuk menghirup udara segar. Tiba-tiba ada ibu-ibu menyapaku.
“Heh…udah lulus?” tanya ibu-ibu.

“Bulan depan pengumuman bu.” Jawabku buru-buru.
“Udah kerja saja. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya ngabisin duit.” Timpal wanita itu.

Aku diam seribu bahasa , hanya senyum ku berikan kepada perempuan itu. Mau balas, tapi takut dosa. Ya sudahlah, biar Tuhan yang membalas dan meluruskan pandangan ibu-ibu itu betapa pentingnya pendidikan.

Aku sangat membenci pada orang-orang yang menanggap pendidikan tak penting. Atau tujuannya hanya untuk kerja, kerja dan kerja. Apa sesimpel itu tujuan orang-orang belajar di sekolah. Bukankah tujuan pendidikan itu untuk membentuk kepribadian, mengasah kemampuan, serta menjadi manusia berbudi pekerti luhur.
Malas jika mengingat kejadian itu, percakapan dengan ibu-ibu yang tak ada gunanya.

Terdengar bunyi bel sekolah. Itu pertanda jam istirahat sudah dimulai. Teman-temanku mengajak untuk ke kantin. Aku langsung memesan bakso 1 mangkuk ditambah 1 es teh. Penjual bakso itu tiba-tiba menanyaiku.

“Mas-mas kelas dua belas ya?” tanya penjual bakso.

Aku hanya mengangguk, menjawab pertanyaan itu.
“Setela ini mau kemana mas?” tanya penjual itu lagi.

“kalau enggak nikah, kerja ya kuliah pak.” Ucapku cenge-ngesan. Penjual bakso itu pun membalasku dengan tersenyum lebar.

“tadi cuman bercanda saja pak. Sebenarnya saya ingin sekali kuliah. Belajar diperguruan tinggi adalah cita-cita saya sejak dulu. Saya ingin membantu tetangga-tetangga saya yang kesusahan pak.” Jawabku jelas.

Penjual bakso itu lantas menepuk-nepuk bahuku, dan mengatakan.

“Semoga impianmu berhasil.” Doa si penjual bakso.

Penjual bakso itu baik sekali, kataku dalam hati. Serasa tubuh ini mendapat asupan energi demi memperjuangkan impian besar dimasa depan.
Akhir-akhir ini, hampir setiap hari. Aku tak pernah tidur dibawah jam 12 malam. Hari-hari itu aku pergunakan untuk melengkapi dokumen administrasi. Selain itu aku juga belajar tes kemampuan dasar dan potensi akademik sebagai syarat selanjutnya. Ini aku lakukan agar bisa lolos di jalur tersebut yang akan diperebutkan siswa-siswi seluruh negeri.

Kakak iparku dulu juga melakukan hal yang sama sepertiku. Berjibaku siang dan malam. Menerobos teriknya matahari, sesekali memeluk dinginnya malam. Ibunya terkadang tak sampai hati, melihat apa yang sedang diperjuangkan anaknya.

Dia belajar bimbingan kesana kemari ditemani sepeda butut pemberian kakeknya. Persiapan demi persiapan dia lakukan selama 1 tahun. Dalam satu minggu dia masuk hanya 2 kali. Selebihnya dia pergunakan untuk membantu ibunya mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual kembali. Walau hasil yang didapat cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Ibunya tetap terus mendorong untuk terus belajar, sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Pernah suatu ketika, kakak iparku ketahuan bolos sekolah. Sesampainya dirumah, ibu memarahinya habis-habisan. Ibu selalu menempatkan pendidikan sebagai tujuan utama. Entah kelak dia jadi apapun, terserah kehendak Tuhan yang mengatur.

***

Ibu hanya ingin kakak iparku belajar dengan sungguh-sungguh. Agar tak seperti beliau yang hanya lulusan SMP. Demi membantu meringankan beban perekonomian orang tua. Ibu akhirnya memilih untuk bekerja. Di pabrik gula milik orang berkulit putih dan berhidung mancung. Jarak dari rumah ke pabrik itu tak sampai puluhan kilo meter. Meski seperti itu beliau tak pernah mengeluh sedikitpun. Hal itu beliau jalani dengan penuh kesabaran.

Jika mendengar cerita itu kakak iparku tak kuasa menahan tangis. Terharu betapa perjuangan yang tak mudah harus dilewati ibu. Dia mulai sadar diri akan jalan yang harus diambil. Dia mulai meneguhkan prinsip, meneguhkan cita-cita. Menjadi seorang dokter yang bisa membantu masyarakat sekitar.

***

Ku lihat sepintas kerumunan orang-orang yang sedang asyik membicarakan perihal besok apa yang harus dilakukan. Angan-angan tentang masa depan bagi mereka begitu jelas. Dengan suguhan secangkir kopi dan 2 piring jajanan sebagai pelengkap kebersamaan. Mula-mula aku tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

Hanya saja ku dengar sepintas, mereka sedang membicarakan pendidikan yang tepat untuk mereka selanjutnya. Pendidikan yang mampu memberikan mereka penghasilan besar, pekerjaan yang tak perlu mengeluarkan banyak keringat, atau menjanjikan kehidupan yang layak untuknya.

“Kalau pekerjaanmu hanya menghayal, impianmu tak akan pernah terwujud. Pekerjaan akan datang dengan sendirinya jika kau tekun belajar dan bekerja keras. Kau hanya perlu berjalan setapak demi setapak untuk mendapatkan hasilnya.”

Aku berusaha meluruskan pandangan mereka, karena pandangan yang seperti itu, yang menjadikan diri menjadi pribadi yang malas.
Pekerjaannya hanya menghayal, melamun. Tak ada tindakan nyata yang harus mereka kerjakan.

Nikmatnya saat pertama kali meminum kopi yang sejak tadi disuguhkan pemilik rumah. Aroma hitam pekat membawa kenyamanan saat pertama kali menghirup. Aku meminta mereka untuk mengingat-ingat betul ucapanku. Karena ada saatnya untuk bekerja lebih keras ketimbang hanya memikirkan sesuatu yang belum pasti.

Mereka adalah pemuda-pemuda yang baru pertama kali merasakan dunia kerja. Memang betul, selepas dari SMU, pasti yang ada dibenaknya hanyalah kerja. Mendapat gaji besar, buru-buru membeli perlengkapan yang belum tentu mereka butuhkan. Mereka tak pernah berfikir kalau sewaktu-waktu kalian bisa di PHK akibat pekerjaan kalian tidak berkembang, gagal bersaing dengan generasi sesudah mereka.

Tak sengaja ditengah perjalanan aku bertemu dengan pak lurah, beliau mengatakan.

“Tolong ya mas, teman-teman yang baru lulus dicarikan pekerjaan atau belajar diperguruan tinggi. Diajak untuk melakukan kegiatan positif, kreatif. Kasihan mas, masih muda harus diajak melakukan kegiatan-kegiatan yang baik. Agar pola pikir mereka terbuka dan berkembang.”

 

Share this post

PinIt
    scroll to top