HOME // Ekonomi // Terkini

Harga Cabai Meroket, Petani Cabai Rela Tidur di Kebun


 Pada: Maret 24, 2021
Foto : Petani cabai menunjukan hasil panen.

Lenteramojokerto.com I Mojokerto – Sejumlah petani cabai di Kecamatan Dawar Blandong tidur di kebun menjaga tanaman cabai milik mereka dari pencuri. Hal itu dilakukan lantaran harga cabai yang meroket dikhawatirkan menarik pencuri untuk melakukan aksinya.

Seperti yang dilakukan Triaji (58), petani cabai di Desa Jatirowo, Kecamatan Dawarblandong. Ia mempunyai kebun cabai dengan luas sekitar 33 x 10 meter persegi. Tanaman tersebut kini berumur 2 bulan lebih karena ditanam pertengahan Desember tahun lalu.

Sama dengan petani cabai lainnya di Dawarblandong, masa panen di Jatirowo dimulai akhir Februari 2021. Selama satu bulan terakhir, Triaji bersama petani lainnya rela menginap di kebun cabai untuk mencegah pencurian.

“Karena keadaan harga cabai mahal. Harga di petani tidak merata, paling rendah Rp 80.000/kg, tertinggi Rp 115.000/kg,” kata Triaji, Rabu (24/3/2021).

Harga cabai rawit di petani tahun ini memang sedang pedas-pedasnya. Karena tahun lalu, cabai di petani paling tinggi Rp 60.000/Kg. Bahkan harganya jatuh saat panen raya menjadi Rp 10.000/Kg.

Oleh sebab itu, Triaji dan petani cabai lainnya di Jatirowo menjaga kebun mereka selama 24 jam selama musim panen tahun ini.

“Penjagaan dilakukan dengan sistem gotong-royong sehingga saling bergantian.
Kami khawatir dicuri. Pencurian pernah terjadi, tapi tidak sering, pelakunya bukan orang luar,” terangnya.

Berkat kekompakan para petani, kebun cabai mereka aman dari pencuri. Hingga masa akhir panen raya, Triaji mengaku sudah memanen hampir 400 Kg cabai rawit dari lahan miliknya.

“Saya petik cabai lima hari sekali, dapat 30-80 Kg sekali petik,” ungkapnya.

Hal yang sama dilakukan Arik Susanto, petani cabai di Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong. Dia juga rela bermalam di kebun demi tanaman cabai miliknya aman dari pencuri. Para petani cabai di desa ini biasa bermalam di gubuk yang dibuat di tengah kebun.

BACA JUGA :  Polresta Mojokerto Siap Laksanakan PPKM Berbasis Mikro Dan Bentuk Posko Hingga Tingkat Kelurahan

“Kebun saya belum pernah kemalingan, tapi buat jaga-jaga saja karena harga cabai sedang mahal,” tandasnya.

Arik mengelola kebun cabai seluas 200 meter persegi. Dari kebun ini, dia bisa memanen setidaknya 150 Kg cabai rawit.(ar/LM)


Sudah dibaca : 8 Kali
 






Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.

ARTIKEL LAINNYA

VIDEO