Dinas Kebudayaan Kota Ternate Gelar Workshop dan Pameran Jejak Warisan Alfred Russel Wallace

TERNATE – Workshop dan Pameran jejak warisan Alfred Russel Wallace oleh Dinas Kebudayaan Kota Ternate, di ball room Kie Raha lantai 5 muara hottel, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, KotaTernate, Maluku Utara, Selasa (3/9/2019).

Kegiatan ini dihadiri oleh Walikota Ternate, Dr. Burhan Abdurrahman, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Ir. Arifin Umasangadji, Direktur A. R. Wallace Correspondence Project Mr. Paul Wincup, Mr. George Beccaloni dan Mr. Paul Spenser Sochaczweski, Kepala Bidang Sejarawan dan Cagar Budaya Kota Ternate, Rinto Taib. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Walikota Ternate Burhan Abdurahman, yang di ikuti 80 peserta.

Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Walikota Ternate Burhan Abdurrahman dalam sambutannya bahwa bagi saya apa yang kita lakukan hari ini adalah hal yang sangat penting dan menjadi fokus bagi pemerintah kota di tahun 2020 nantinya.

“Intinya bahwa apa yang kita lakukan hari ini, Insya Allah nanti ditindak lanjuti oleh pemerintah kedepan, karena ini merupakan sesuatu yang sangat besar dan penting bagi masyarakat Kota Ternate di masa-masa yang akan datang, “terangnya.

Lanjut Burhan, bahwa hal ini merupakan momentum yang harus diskusikan, untuk mengembalikan kejayaan Ternate dan mengangkat profesionalisme seorang Alfrid Russel Walace yang kebetulan cukup lama tinggal di Ternate pada saat itu.

“Agar dunia mencari apa yang telah dilakukan oleh A.R Wallace tentang teori evalation yang digagas oleh Darwin, supaya para ilmuan-ilmuan tertarik dengan apa yang kita bicarakan hari ini, “tegasnya.

Olehnya itu, workshop hari ini menjadi hal yang sangat penting dan jangan berhenti sampai disini. Sampai kita wujudkan rumah seorang ilmuan A.R Wallace. Agar bisa menjadi destinasi Parawisata di Maluku Utara kedepan. Hal ini diupayakan agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Ternate dan Maluku Utara secara umum. Dan Ternate kedepan harus kita isi dengan ivent-ivent yang dapat menarik orang banyak untuk berkunjung melihat destinasi Parawisatnya yang ada di Kota Ternate.

“Sebelum masa jabatan saya berakhir, kiranya kita sudah bisa menemukan bekas peninggalan Rumah Wallace, agar kita bisa membangun rumah seorang ilmuan tersebut untuk menjadi pertontonan bagi masyarakat didalam negeri mau pun manca negara, dan bisa berkunjung di Kota Ternate,”harapnya.

Sementara itu, melalui hasil konferensi pers oleh awak media, salah seorang juru bicara Ilham Abdullah mengatakan, bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktur A. R. Wallace Correspondence Project (Mr. Paul Wincup, Mr. George Beccaloni dan Mr. Paul Spenser Sochaczweski), bahwa ada 7 sumur yang menjadi fokus penelitian dimana tempat rumah Alfrid Russel Wallace yang sebenarnya. Namun, hal ini masih tetap dikumpulkan bukti-bukti data yang falid didalam penelitian mereka, agar untuk membuktikan lokasi rumah Wallace atau tempat tinggal yang sebenarnya. itu tidak jauh dari benteng Front Orange.

“Kata mereka rumah Wallace tidak jauh dari benteng orange, dan bahkan dari rumah Wallace jika pergi ke Pasar dalam jangka waktu hanya 5 Menit, “jelasnya.

Olehnya itu, harapan mereka, semoga penelitian yang dilakukan, kira adanya dukungan dari masyarakat dan pemerintah Kota Ternate. Agar apa yang mereka teliti bisa tercapai dan hasilnya memuaskan.

Selain itu, Rinto Taib Kepada Bidang Sejarawan dan Cagar Budaya Kota Ternate menambahkan bahwa lokasi yang paling memungkinkan dari rumah Alfred Russel Wallace di Ternate telah di identifikasi.

“Rinto mengumumkan penemuan ini di Konferensi dan Festival Kota-Kota Kreatif Indonesia yang diadakan di Ternate antara 2-7 September 2019 Rumah Wallace di Ternate telah menjadi legenda, “ujarnya.

Lanjut, Rinto Dari sinilah Wallace mengirim Surat, Ternate yang terkenal ke Charles Darwin, pada Maret 1858, menguraikan Teori Evolusi Para sejarawan, akademisi, dan penggemar Wallace telah berusaha menemukan lokasi rumah, Wallace sejak bertahun-tahun. Wallace memberikan petunjuk menggiurkan tentang lokasi rumahnya saya dalam bukunya The Malay Archipelago (1869).

“Dua petunjuk paling penting adalah bahwa rumah itu memiliki sumur dalam yang memberi persediaan air dingin bahwa bentengnya berada tepat di bawah rumah saya, “beber Rinto.

Rintu menambahkan bahwa Prof Sangkot Marzuki, Mantan Presiden dari Akademi llmu Pengetahuan Indonesia dan Syamsir Andili, Walikota Ternate, 2000-2010, membuat identifkasi awal dari sebuah situs yang cocok dengan sebagian besar deskripsi Wallace, dalam sebuah makalah yang dipresentasikan pada acara Wallace di Makassar pada 2008.

Situs kredibel pertama ini bernama Santiong House George Beccaloni, sejarawan Wallace di Inggris, adalah orang pertama yang mempertanyakan keaslian Rumah Santiong karena gagal memenuhi satu petunjuk kritis yang di jelaskan oleh Wallace, yaitu, bahwa benteng itu berada tepat di bawah rumahnya. Paul Whincup, seorang ahli hidrogeologi yang tinggal di Jakarta kemudian berkolaborasi dengan George
Beccaloni, dengan menyatakan bahwa bukti sumur-sumur tua masih harus tetap ada.

Menurutnya juga bahwa Pada awal 2019, dua penduduk Ternate, Fiffy Sahib dan Mudhi Aziz, melakukan survei terhadap sumur-sumur di area umum yang di jelaskan oleh Wallace atas pemintaan Whincup dan Beccaloni. Mereka mengidentifikasi tujuh sumur-sumur tua, dan salah satunya terletak di situs yang cocok dengan deskripsi Wallace. Rumah aslinya, yang terbuat dari kayu dan palemsagu, tentu saja sudah lama menghilang situs inilah, yang terletak di persimpangan Jalan Pipit dan Jalan Merdeka yang menghadap ke sudut barat daya Benteng Oranje, yang kini disepakati sebagai situs yang paling memungkinkan menjadi tempat tinggal Waillace dan dari manaoia mengirimkan Surat Ternate yang terkenal.

Rumah Wallace memiliki makna sejarah yang sangat besar untuk Indonesia dan juga secara internasional. Hal ini tentunya memiliki potensi besar untuk mempromosikan pariwisata di Ternate. Sangat diharapkan bahwa tanah lokasi tersebut dapat dibeli dan replika dari rumah asli di bangun di situ-situ.

Replika dari Rumah Wallace akan melengkapi Museum Rempah-rempah di Fort Oranje, dimana akan dapat ditampilkan eksplorasi dan penemuan ilmiah Wallace, serta pencapaian-pencapain intelektual yang di buatnya saat mendokumentasikan keanekaragaman hayati Indonesia Timur. Lokasi ini juga dapat menjadi pusat pendidikan untuk mendorong upaya konsenvasi keanekaragaman hayati yang sangat dibutuhkan di kepulauan Maluku.

“Tahun 2019 ini menandai peringatan ke satu 50 tahun dari penerbitan buku Wallace, The Malay Archipelago (1869). Sudah sepantasnya pencarian rumahnya akhirnya terwujud, “tandasnya. (atir)

Bagikan :