Menu Navigasi


Pemilu 2019 Tonggak Sejarah Pemilu Di Indonesia

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Foto : Heru Suyitno S.Pdi (wartawan Lentera Inspiratif. Com dan Pengamat Politik Mojokerto)

Oleh : Heru Suyitno S.Pdi

Pemilu tahun 2019 ini merupakan pemilu yang ke 12 kalinya dilaksanakan oleh bangsa Indonesia pertama pada tahun 1955 memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997,hanya memilih legislatif; 1999 multi partai berjumlah 48 parpol legislatif dipilih secara serentak selanjutnya presiden dipilih oleh MPR, pemilu 2004 keterpilihan legislatif berdasarkan nomer urut yang ditentukan oleh partai, 2009,2014 memilih DPR, DPD, DPRD propinsi, DPRD Kabupaten/Kota keterpilihan legislatif berdasarkan suara terbanyak kemudian dilanjutkan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung pada hari dan bulan yang berbeda, Pemilu 2019 ini merupakan sejarah pertama kali dalam konstek pemilu di Indonesia yakni Pemilihan presiden dan wakil presiden serta DPR, DPD, DPRD Propinsi, DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan secara bersamaan pada hari yang sama.

Peserta pemilu tahun 1955 jumlah partai politik sebanyak 49, tahun 1971 sebanyak 10, tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 masing-masing 3 partai politik, tahun 1999 sebanyak 48 partai politik, tahun 2004 sebanyak 24, dan tahun 2009 sebanyak 38 partai politik dan menjadi 12 partai politik pada tahun 2014, parpol peserta Pemilu 2019 mengalami peningkatan menjadi 20 (dua puluh) parpol termasuk didalamnya (4) empat partai lokal dari Aceh (BPS, Statistik politik 2018, hal 61)
Bertepatan dengan 17 April 2019 rakyat Indonesia akan memilih secara bersamaan yakni Presiden dan wakil presiden, Dewan perwakilan rakyat, Dewan perwakilan Daerah, dewan perwakilan rakyat provinsi dan dewan perwakilan rakyat kabupaten kota sungguh suatu tantangan yang tidak mudah bagi penyelenggara pemilu tentunya. Adapun jumlah pemilih yang tercatat pada Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan ke-2 (DPTHP-2) Pemilu 2019 sebanyak 192.828.520 jiwa. DPT itu terdiri dari 514 kabupaten/kota, 7.201 kecamatan, dan 83.405 kelurahan di Indonesia, dengan demikian, DPT dalam negeri dan luar negeri hasil DPTHP-2 adalah 192.828.520, dengan rincian laki-laki 96.271.476 dan perempuan 96.557.044.

Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, untuk calon legislatif ada 7.968 orang yang tercantum dalam daftar calon legeslatif Jumlah ini berasal dari 16 partai politik nasional dan 4 partai politik lokal aceh yang mengikuti Pileg 2019. Dari jumlah itu, terdapat 4.774 caleg laki-laki dan 3.194 caleg perempuan. Proporsi ini tentunya sudah memenuhi kuota 30 persen caleg perempuan seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu No 7 tahun 2017.
Dari jumlah calon legislatif ini diharapkan dapat menumbuhkan demokrasi sesungguhnya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat tentunya jika proses pendidikan politik dilakukan dengan sungguh-sungguh yakni memberikan pendidikan, pemahaman, pencerahan serta komitmen pembangunan bangsa kedepan kepada masyarakat serta memahamkan arti pentingnya partisipasi/ memberikan suara pada pemilu yang langsung umum bebas rahasia jujur dan adil, diharapkan pula tampa money politik ataupun menyebarkan berita hoax, kebohongan, fitnah, caci maki, ujaran kebencian yang dapat memecah belah kerukunan sesama anak bangsa yang sudah terbina dalam bingkai Bhineka tunggal ika selama ini.

Dinamika politik tahun ini tentunya berbeda dengan pemilu sebelumnya dimana pilihan presiden dan wakil presiden, pilihan legislatif dilakukan tidak bersamaan ada calon legislatif partai A di lokal daerah yang masyarakatnya banyak mendukung calon presiden B, ada pula tokoh partai yang berbeda dengan pilihan calon presiden partainya bahkan ada juga pimpinan partai yang melakukan kampanye lebih mengutamakan pilihan calon legislatif dibanding pemilihan presiden dengan memberikan kebebasan kepada kadernya untuk memilih calon presiden manapun, perilaku seperti itu kiranya memang dapat dimaklumi mengingat pemilu kali ini suara partai harus mencapai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen dihitung dari suara sah, suara parpol peserta pemilu yang tidak lolos nantinya akan dianggap hangus dan tidak bisa digunakan untuk penghitungan perolehan kursi DPR RI sesuai dengan Undang Undang No 7 tahun 2017 Pasal 414 (1) Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara paling sedikit 4%(empat persen) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR.

Pemilu kali ini masyarakat dihadapkan pada begitu banyak pilihan baik itu calon presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD kab/kota sehingga pada saat masyarakat memberikan hak pilihnya akan mendapatkan 5 surat suara sekaligus yakni surat suara berwarna abu-abu untuk presiden dan wakil presiden, Warna kuning untuk DPR RI, Warna merah untuk DPD RI,Warna biru untuk DPRD Propinsi dan warna hijau untuk DPRD kabupaten/kota jadi kotak suara di tiap TPS pun 5 jumlahnya, ingat ini bukanlah kotak sulap/hadiah melainkan kotak pandora dalam mitologi yunani kuno, jika kita salah pilih saat dibuka keluarlah keburukan, kebencian, dan murka oleh sebab itu berikanlah mandat pada calon terbaik menurut kita agar harapan untuk terwujudnya Indonesia adil dan makmur dapat terwujud.

Vox populi, vox dei. Ungkapan dalam bahasa Latin ini terjemahannya “suara rakyat adalah suara Tuhan.” Artinya, suara rakyat harus dihargai sebagai penyampai kehendak Ilahi jangan sampai dikotori dengan memaksa, intimidasi atau membeli suara rakyat begitu juga masyarakat diharapkan lebih jeli dan sadar bahwa memilih bukan seperti membeli kucing dalam karung kenali fisi, misi, komitmen kedepan untuk membangun daerah kita baik kab/kota, propinsi, maupun pusat jangan tergiur oleh money politik yang akan menjerumuskan kita lima tahun kedepan ke jurang kehancuran, yakinlah bahwa pemilu ini adalah memilih wakil rakyat yang merupakan wakil tuhan dibumi untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indoesia serta mampu mensejahterakan rakyatnya hingga menjadikan NKRI menjadi negara demokrasi terbesar penuh harkat dan martabat.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Bagikan :

1 / 3
Caption Text
2 / 3
Caption Two

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

BERITA TERKAIT :