Kini kami hadir di Google play store, klik, unduh dan instal

HOME // Daerah // Gaya Hidup

   Pada: Selasa, 20 Agustus 2019

KKN UNIM Jalin Hubungan Sinergi Dengan Desa Jembul Dan Eksportir Porang

Foto : saat sosialisasi edukasi ekspor dan budidaya porang

Mojokerto – Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Islam Majapahit (UNIM) memberikan Sosialisasi Edukasi Ekspor dan Budidaya Porang secara Modern dan Profesional kepada masyarakat Desa Jembul, Jatirejo. pada 19/08, di Balai Desa Jembul pukul 14.00.

Dalam kegiatan tersebut Tim KKN UNIM menggandeng ketua KEMI (Komunitas Eksportir Muda Indonesia) Kustanto ST, dan  Lukman Hakim pegiat porang sekaligus salah satu pengusaha porang terbesar di Jawa Timur. Usaha ekspor porang yang digeluti oleh Lukman Hakim ini sudah berjalan selama 15 tahun, dan memiliki anak cabang pabrik di Lombok, Sulawesi dan masih banyak lagi di luar Jawa. Acara yang dihadiri oleh Kepala BAPPEDA Pemkab Mojokerto, Rektor UNIM Dr. H. Rachman Sidharta Arisandi S.IP, M.Si, Ketua LP4MP Pipit Sari Puspitosari ST., MT, Camat Jatirejo Amin Sun, Dinas Kehutanan Jawa Timur Eko Erwanto, perwakilan Perangkat Desa sekaligus ketua LMDH Samsul Huda (pak Mudin), serta warga Desa Jembul.

Kegiatan sosialisasi ini dilakukan untuk mengembangkan budidaya Porang di Desa Jembul. Dengan proses tanam yang masih tergolong tradisional dan sederhana, tanpa adanya budidaya intensif yang berkala oleh petani di Desa Jembul. Akibatya hasil panen yang diperoleh tidak bisa maksimal. Sedangkan kebutuhan pasar global porang membutuhkan banyak sekali pasokan porang. Indonesia sendiri hanya bisa menghasilkan 20% dari permintaan pasar. Pemasok terbesar selama ini berasal dari negara China dan Jepang. Oleh karena itu, perlu dikembangkan budidaya porang untuk menghasilkan jumlah panen yang maksimal. Menurut Lukman, “Dengan harga basah glondongan porang hari ini sebesar 12.000-12.500 rupiah perkilonya, sudah cukup menggiurkan apalagi bila petani bisa memaksimalkan hasil panen dan bisa mengolahnya menjadi kripik, tepung dll., tentu nilai jualnya akan menjadi berkali-lipat sampai ratusan ribu perkilonya.”
Masyarakat desa Jembul merasa kesulitan untuk membudidayakan porang, dikarenakan saat musim kemarau benih porang yang sudah disemai tidak bisa tumbuh. Jadi, mereka hanya bisa panen setahun sekali pada sekitar bulan April. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai bagaimana proses budidaya porang yang benar turut menjadi kendala bagaimana proses budidaya yang dilakukan oleh masyarakat itu menjadi kurang maksimal.

Laman: 12

<< Kembali | Selanjutnya >>







Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI