Nantikan aplikasi kami di Google Play Store

HOME // Budaya // Nasional

   Pada: Jumat, 19 Oktober 2018

Kisah Nakamura, Prajurit Jepang yang Bersembunyi 30 Tahun di Hutan Morotai

Nakamura saat bersama TNI

MOROTAI – Masyarakat Pulau Morotai Maluku utara tak asing lagi ditelinga dengan sebutan nama “NAKAMURA”, dari mulai Tugu patung Nakamura yg terlihat jelas di salah satu sudut desa Dehegila Morotai selatan, hingga penamaan desa SP3 transmigrasi menjadi Desa Nakamura, tetapi sayangnya hanya sebagian kecil yg tau cerita tentang TEURO NAKAMURA prajurit jepang itu, yg bersembunyi kurang lebih 30 tahun di pulau Morotai semenjak jepang menyerah ditangan sekutu tahun 1945 pada perang dunia ke II.
dalam narasi berikut, ada kutipan sebuah nama saksi sejarah Alm. Muhammad yaman beliau kala itu pernah bercerita tentang Nakamura, dan berikut ini kilas balik ceritanya dari kisah itu.

Orangnya berkulit agak hitam. Kepalanya sudah botak namun badannya masih tegap untuk berjalan. Hidungnya mancung, kelihatan sekali kalau ia adalah pria keturunan arab.

Dialah Faizal bin Abdul Azis (64 tahun), salah seorang saksi hidup peristiwa penjemputan Teruo Nakamura, seorang prajurit Jepang era Perang Dunia Kedua yang bersembunyi di belantara hutan Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, selama 30 tahun.

Orangnya ramah, saya dipersilakan masuk ke dalam rumahnya di Ternate, Maluku Utara, dan memperkenalkan diri. Setelah berbasa-basi, saya memintanya untuk menceritakan pengalamannya 40 tahun yang lalu, saat ia masuk dalam rombongan pasukan TNI AU yang menjemput Nakamura.

Sambil menghisap sebatak rokok kretek miliknya, Faizal menerawang kembali ke masa lalu. Ia ingat, pada waktu itu, sebelum penjemputan Nakamura, sudah tersiar kabar dari kalangan penduduk di Pulau Morotai bahwa ada prajurit Jepang, veteran Perang Dunia Kedua yang masih bertahan di hutan Desa Pilowo.

Pada waktu itu, ada seorang warga Desa Pilowo bernama Luther Goge yang melapor ke Kapolek Pulau Morotai, Kapten Lawalata tentang adanya prajurit Jepang yang bersembunyi di hutan.

Berdasarkan keterangan Luther, lanjut Faizal, bahwa ayahnya yang bernama Baicoli, bersahabat dengan Nakamura selama puluhan tahun. Ayahnya bertemu Nakamura saat sedang berburu babi hutan.

Dari pertemuan itu, mereka bersahabat. Baicoli kerap mengunjungi Nakamura di tempat persembunyiannya untuk membawakan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan seperti gula, garam, atau teh.

patung nakamura

Kegiatan Baicoli itu pada awalnya sama sekali tak diketahui oleh Luther. Hingga akhirnya, menjelang ayahnya meninggal, Luther diberi wasiat untuk melanjutkan persahabatan dengan Nakamura dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkannya.

Luther kemudian dikenalkan oleh ayahnya kepada Nakamura. Setelah ayahnya meninggal, Luther yang melanjutkan persahabatannya itu.

Namun, Luther juga pada 1974, mulai merasakan hidupnya tak akan lama lagi. Ia pun khawatir dengan keadaan Nakamura. Luther tak memiliki anak yang akan melanjutkan hubungannya dengan Nakamura. Akhirnya, ia melaporkan tentang persahabatannya itu kepada Kapolsek Pulau Morotai.

Pada awalnya, Kapten Lawalata selaku kapolsek belum meyakini laporan dari Luther Goge itu. Sehingga, ia melaporkan hal tersebut kepada Komandan Pangkalan Udara TNI AU di Pulau Morotai, Kapten Supardi.

Kapten Supardi-lah yang memutuskan untuk menjemput Nakamura. Sebuah tim penjemput beranggotakan sebanyak 20 orang disiapkan dan Supardi memimpin penjemputan itu.

Faizal, yang saat itu baru berusia 24 tahun, diajak ikut serta oleh Supardi menjadi bagian dari tim. Ia yang pada waktu itu menjadi kontributor RRI Ternate di Pulau Morotai, menjadi satu-satunya wartawan yang meliput di Pulau Morotai.

Penjemputan Nakamura

Faizal menceritakan, tim berangkat pada 18 Desember 1974. Tim berangkat pada pagi hari. Namun, keberangkatan itu dirahasiakan dari penduduk. Tim berjalan dari pagi hingga petang mulai dari pusat kota Pulau Morotai ke kawasan hutan di Desa Pilowo, tempat persembunyian Nakamura.

“Kami berjalan kaki ke hutan dari pagi sampai sore. Malamnya kami mendirikan tenda dan tidur di hutan,” kenang Faizal beberapa waktu lalu.

Pada malam harinya, ada seorang anggota bernama Sersan Mayor Hanz Anthony yang fasih berbahasa Jepang. Ia kemudian merancang skenario penangkapan Nakamura.

Ia mengajarkan lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang kepada seluruh tim. Tim penjemput pun menghapalkannya. Selain lagu, tim juga membawa foto Presiden Soeharto beserta bendera merah putih dan Perdana Menteri Jepang pada waktu itu Kakuei Tanaka beserta bendera matahari Jepang.

Skenarionya adalah, saat Nakamura muncul, maka tim penjemput menyanyikan lagu kebangsaan Jepang dan mengibarkan bendera Jepang dan merah putih serta menunjukkan foto Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Kakuei Tanaka.

Pagi harinya, tim penjemput kembali bergerak mencari Nakamura. Setelah beberapa saat berjalan, tim menemukan gubuk persembunyian Nakamura. Pada waktu ditemukan, Nakamura sedang tidak ada di tempat.

Tim penjemput pun kemudian bersembunyi. Saat Nakamura kembali, tim kemudian mengepung gubuk itu.Nakamura terkejut dan raut wajahnya terlihat sangat tegang dan berusaha masuk ke dalam gubuk.

Sesuai sekenario, tim menyanyikan lagu Kimigayo dan mengibarkan foto serta bendera. Mendengar itu, Nakamura langsung berdiri tegak dan dalam keadaan siap. Saat itulah, Serma Hanz Anthony menyergap Nakamura. Tim kemudian menodongkan senjata ke arah Nakamura dan menyuruhnya angkat tangan. “Pada saat itu juga Nakamura menyerah kepada Pasukan TNI AU,” kata Faizal.

Sersan Mayor Hanz Anthony kemudian berbicara kepada Nakamura dalam bahasa Jepang. Hanz menginformasikan bahwa perang telah usai sejak 29 tahun lalu. Jepang, sebagai negara yang dibela Nakamura juga kalah dalam perang tersebut oleh sekutu.

Laman: 12







Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI