Kini kami hadir di Google play store, klik, unduh dan instal

HOME // Budaya // Daerah // Wisata

   Pada: Kamis, 18 Juni 2020

Tak banyak Yang Tahu, Makam Pahlawan Nasional Raden Panji Soeroso Ternyata di Kota Mojokerto

Panji soeroso

Lenterainspiratif.com | Mojokerto – Raden Panji Soeroso Merupakan tokoh terakhir dari para pejuang 1908.

Ia merupakan pahlawan nasional yang memiliki jasa besar dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Diketahui Raden Panji Soeroso juga menjadi wakil terakhir dari angkatan tua para pejuang nasional yang sempat hidup hingga penghujung abad ke 20.

Raden Panji Soeroso merupakan Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, karena beliau juga banyak berkecimpung dalam dunia perkoprasian.

Penghormatan itu diberikan kepada beliau atas upayanya memelopori pendirian koperasi pegawai di tiap-tiap kantor di seluruh daerah di Indonesia.

Raden Panji Soeroso juga pernah menempati beberapa jabatan strategis seperti Gubernur Jawa Tengah, Meneri Pekerjaan Umum, Menteri Sosial, hingga Wakil Ketua PPKI.

Ketika menempuh pendidikan di Kweekschool, sebuah Sekolah Guru, Raden Panji Soeroso terusik oleh sikap seorang guru Belanda yang menghina Bangsa Indonesia, iapun melakukan protes. Tidak tanggung-tanggung, Raden Panji Soeroso yang terkenal berpikiran maju dan pemberani pun memimpin pemogokan murid-murid seluruh sekolah yang tidak puas dengan direktur sekolah pada waktu itu. Akibatnya, ketika duduk di kelas 6, Raden Panji Soeroso didepak dari sekolahnya.

Pemecatan itu ternyata tak lantas membuatnya melemah, dia kemudian pergi ke Surabaya untuk belajar jurnalistik.

Berbekal pengetahuan jurnalistiknya, Raden Panji Soeroso mulai menulis artikel-artikel untuk menyerang pemerintah kolonial meski secara halus.

Meski lahir dari keluarga priyayi, namun perhatian Raden Panji Soeroso terhadap golongan masyarakat kecil sangat besar.

Ketika masih bersekolah, ia sudah aktif berorganisasi, salah satunya adalah organisasi Budi Utomo.

Pada 1915, Radan Panji Soeroso diangkat menjadi Ketua Sarekat Islam Cabang Probolinggo dan Krakasan.

Ketika usianya masih 21 tahun, Raden Panji Soeroso sudah memimpin rakyat di daerah tersebut yang mayoritas berasal dari Madura.

Dalam kepengurusannya, Raden Panji Soeroso menitikberatkan pada gerakan nasional dan perbaikan ekonomi rakyat.

Pada 1917, Raden Panji Soeroso dipilih menjadi anggota gemeenterad Probolinggo.

Dalam kedudukan itu ia membela nasib pemilik waning di pinggir jalan supaya tidak dibongkar dan berhasil. Serta tetap bisa membela kaum pribumi.

Selain itu, Raden Panji Soeroso termasuk pendiri Organisasi Kepegawaian yang pada waktu itu bernama Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (PVPN).

Pada 1921 Raden Panji Soeroso menjadi Ketua Personel Pabrik Bond daerah Mojokerto dan memimpin pemogokan pegawai pabrik gula yang jumlahnya 12 buah milik orang Belanda dan aksi pemogokan ini menghasilkan perbaikan nasib para pegawai pabrik tersebut.

Pada periode pergerakan Nasional sampai datangnya pendudukan Jepang pada 1942, Raden Panji Soeroso menjadi anggota Volksraad sejak 1924.

Raden Panji Soeroso juga merupakan orang yang pertama kali berpidato dalam sidang Volksraad yang megkritik beleid Pemerintah Hindia Belanda dan menolak maksud Pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan pajak Landrente di Sumatera Barat.

Pada 1943, Raden Panji Soeroso menjadi Sucokan, dan sewaktu menjadi Sucokan itu ia mengambil kesempatan untuk mengumpulkan lurah-lurah desa dari kabupaten-kabupaten untuk membesarkan semangat kebangsaan mereka serta memimpin dinas-dinas Pemerintahan Pertanian dan Pendidikan dan Pekerjaan pamong Praja.

Raden Panji Soeroso pernah juga menjadi wakil Ketua Dokuritsu Jiunbi Cosakai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Raden Panji Soeroso tetap menjadi pejuang melalui berbagai jabatan yang dipercayakan kepadanya.

Ia pernah menjabat Gubenur Jawa Tengah, Anggota KNIP Pusat, dan kemudian tahun 1946 Raden Panji Soeroso diangkat sebagai Komisaris Tinggi untuk daerah Solo dan Yogyakarta.

Ketika Belanda menyerang Yogyakarta tahun 1948 pemimpin-pemimpin negara ditangkapi Belanda.

Maka dibentuklah suatu pemerintahan darurat di bawah pimpinan MR. Syarifuddin Prawiranegara dengan kedudukan pusatnya di Sumatera.

Pada waktu itu Raden Panji Soeroso diangkat sebagai salah seorang anggota pemerintahan darurat yang berkedudukan di Jawa.

Pada 1950, Raden Panji Soeroso diangkat menjadi anggota DPR mewakili Parindra, tetapi hanya sebentar karena kemudian ia diangkat menjadi Menteri Perburuhan di kabinet Moh. Nasir.

Sejak saat itu sampai 1956 ia menduduki beberapa Jabatan menteri seperti Menteri Urusan Pegawai, Kemudian Menteri Sosial, serta Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik merangkap Menteri Dalam Negeri selama satu tahun.

Selama menjabat sebagai Menteri, perhatian Raden Panji Soeroso ditujukan pada perbaikan kehidupan rakyat kecil.

Pada waktu menjabat sebagai Menteri Perburuhan, ia menghentikan pemogokan buruh-buruh perkebunan yang jumlahnya berpuluh-puluh ribu yang menuntut kenaikan upah dan perbaikan jatah pangan.

Pemogokan ini dapat diselesaikan dengan baik dan buruh mendapat kenaikan upah dan tambahan jatah pangan.

Disamping itu, Pada waktu memegang jabatan sebagai Menteri Sosial, untuk melancarkan transmigrasi dari Jawa ke luar Jawa, ia mengadakan percobaan untuk membuka hutan secara mekanis bagi para transmigran.

Laman: 12

<< Kembali | Selanjutnya >>







Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI